Kamis, 14 Februari 2008

SWA SEMBADA TANPA PABRIK GULA BARU

"Swasembada tanpa harus membangun pabrik gula baru (Bungaran saragih)"
Pabrik gula besar existing dengan revitalisasi managemen ( human revitasisasi), seharusnya mampu meningkatkan produksi 20%, program bongkar ratoon dengan mengganti varitas yang lebih baik (varitas dengan kandungan gula tinggi dan sabut rendah) sudah berjalan lebih 3 tahun dan dilaporkan berhasil, sementara pabrik dari tahun ketahun selalu mengeluarkan biaya untuk rehabilitasi dan maintenance, nah tentunya kalau tanaman sudah memenuhi sarat (millable cane) dan pabrik sudah siap operasi, tentu akan didapat rendemen gula dan total gula per ha yang cukup memadai (setidaknya rendemen 8% dan menghasilkan minimal 8 ton gula/ha, ini masih 60% dari performance 1934), faktanya produksi national 2007 stagnan dan justru sangat mungkin dibawah produksi 2006.

Tinjauan dari analisis alir produksi dari tebu menjadi gula.
Jangan salahkan bahan baku karena sudah dilaporkan keberhasilan bongkar ratoon.
Jangan salahkan mesin yang tua, karena 12 pabrik gula baru (dibangun JSPU sesudah tahun 1980) performancenya juga dibawah pabrik gula tinggalan colonial,

Melacak kehilangan gula.
Dimana kehilangan gula dalam proses industri gula.

1.Kehilangan dipabrik
Terdapat kehilangan gula terikut ampas, kehilangan gula terikut blotong , kehilangan gula ditetes akhir dan beberapa kehilangan yang tidak diketahui (undetermined losses).
Dalam laporan managemen kehilangan kehilangan selalu dilaporkan misalnya POL blotong berapa, pol blotong berapa dll dan biasanya semuanya ok ok saja, tetapi kalau dilihat performance PTP II Sumut dimana dihasilkan gula 50% dan tetes 50% pastilah dapat disimpulkan kehilangan gula ditetes relative tinggi (sak hohah), undetermined losses sebagian besar karena activitas jasad renik, akibat sanitasi yang jelek nah silahkan masuk pabrik gula dan silahkan diamati kebersihan bagian bawah gilingan dan station tengah dll , harus disadari bahwa gula sebagai food produk yang langsung dikonsumsi adalah industri yang menuntut kebersihan.

2.Kehilangan diluar pabrik.
Terutama karena kesalahan managemen antara lain yang sangat penting mendapatkan perbaikan adalah : tebangan dengan menyisakan batang bawah, tebangan dengan mengikutkan pucuk tebu untuk menambah berat tebu, tebangan dengan kotoran terikut (daun kering, daun basah dll) lebih dari 3%, tebangan tebu masih sangat muda , tebangan tebu yang kelewat tua dan yang paling penting adalah pengendalian keterlambatan pengiriman tebu, sejujurnya semua pelaku gula tahu tanpa pengendalian ini akan terjadi kehilangan gula lebih dari 2%.
Kalau kita tanya pada satu pabrik gula, besok yang digiling tebu macam apa (varitas, kemasakan dll) pasti dijawab tidak tahu, yang tahu hanya berapa taksiran berat tebu yang akan digiling sesuai kupon SPTA (surat perintah tebang angkut) yang dibagikan tiap sore hari, hal ini karena TUPOKSI yang samar, tanggung jawab hanya menyediakan berat tebu sesuai kapasitas giling belum mencakup kwalitas tebu, memang di pos masuk ada pemerikasan kwalitas tebu pertanyaannya apa efektif, jawabannya pasti tidak kalau efektif tentu rendemen tidak jeblog, satu saat tebu saya ditolak karena alasan kwalitas tidak masuk (meskipun saya selalu panen pada kemasakan normal dengan brix tebu >18), kemudian saya jual kepedagang tebu dan diterima selanjutnya pedagang tersebut juga akan dikirimkan ke pabrik gula?.

Usulan penyelesaian masalah.
Kalau ngomong dan bernada menyalahkan tanpa alternative usulan penyelesaian termasuk golongan omong klobot, termasuk kelompok yang mencari popularitas tanpa tahu akar permasalahan, termasuk kelompok yang memanfaatkan situasi , insa Allah saya diluar kelompok tersebut saya hanya ingin menunjukkan inilah Indonesia.

1.Perjelas job discriposion dari jajaran managemen lengkap dengan reward system.
Bahwa tiap bagian atau bidang melayani bagian/ bidang lain dengan penuh tanggung jawab, bukan sekedar tolak sumpah dan acuh tak acuh, effektipkan kembali gugus kendali mutu yang sesungguhnya bukan hanya bagian dari seremonial saja,

2.Mapping tanaman.
Meskipun petani tebu tidak ada ikatan dengan pabrik tidak ada salahnya sebagai mitra dilakukan pendekatan pendekatan sehingga secara keseluruhan akan didapatkan mapping tanaman yang sesungguhnya, mapping dari satu satu pabrik di gabung dengan pabrik lain sehingga didapatkan data base tanaman yang akurat, bukankah hamper tersedia waktu lebih dari 6 bulan diluar musim giling?.

3.Dudukkan petani sebagai mitra kerja.
Usahakan petani tebu menjadi mitra yang sejajar, bukan jadi mitra karena keterpaksaan dan karena tidak ada pilihan lain, pahamilah keinginan mereka, beri pengertian kalau tebangan dipaksa masih muda atau terlalu tua akan merugikan kedua belah fihak, umumkan tiap tahun peringkat petani yang baik dengan pemberian cendera mata dan perlu juga list petani yang pelu dibina dan diedarkan ke semua pabrik gula agar tidak terjadi petani kutu loncat.


4.Kalau anda gorek.
Tahun 2007 sering kali pabrik gorek (berhenti diluar perencaan) sementara petani sudah menunaikan kewajibannya dengan mengirimkan tebunya sesuai tanggal SPTA, sopir harus menunggu kadang lebih dari sehari semalam, sebenarnya dalam kasus ini pabrik gula sudah melakukan wan prestasi, hanya karena keluguan petani mereka tidak menuntut kerugian akibat turunnya timbangan, akibat turunnya rendemen dll, tetapi minimal apa tidak mungkin sopir yang menunggu mendapatkan jatah minum aqua atau nasi bungkus selama menunggu, dan pengeluaran untuk hal hal semacam ini tidak akan menimbulkan kergugian dari pabrik gula.

5.Jangan ikut jadi pemain.
Kalau ada oknum PG yang ikut bermain sebagai petani tebu maupun pengepul tebu tidak masalah sepanjang permainannya cantik dan membinan dan memberi contoh kepada petani lainnya, kalau permainannya negative tidak usah ikut jadi pemain.


6.Perjelas posisi tengkulak tebu.
Wadah petani tebu sudah jelas ada APTRI, KPTRI dan paguyuban Petani Tebu tetapi bagaimana posisi Tengkulak tebu apa ada Asosiasi Pedagang dan Tengkulak Tebu (sama APTRI), beberapa petani tebu terpaksa karena menjual tebunya ke tengkulak karena tidak mudah untuk minta jadwal tebang langsung ke PG .

7.Jangka pendek.
Kalau mungkin buat satu PG kecil (kapasitas dibawah 3.000 tcd) untuk jadi pilot proyek revitalisasi manegemen dengan stressing ke mapping tanaman dan managemen tebang angkut.

8.Segera melangkah.
Bulan febroari sudah hamper habis, bulan giling kurang tiga bulan lagi mari bersama bergerak , jangan tunggu dana revitalisasi orang Jawa bilang “Ojo ngenteni ndog blorok” atinya jangan tunggu ayam bertelor ayam bertelor kalau dikasih makan, apa ayamnya sudah dikasih makan.

Selamat berjuang untuk petani kecil.





Tidak ada komentar: